Kamis, 10 Maret 2011

Tugas Bahasa Indonesia Karangan

KARANGAN

Pendahuluan

Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

Narasi

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif.

Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam. Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.

Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.

Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.

Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H :

- (What) Apa yang akan diceritakan,

- (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,

- (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,

- (Who) Siapa pelaku ceritanya,

- (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan

- (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.

Deskripsi

Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:

a. menggambarkan atau melukiskan sesuatu,

b. penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,

c. membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.

Pola pengembangan paragraf deskripsi:

Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.

Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.

Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.

Langkah menyusun deskripsi:

a. Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan

b. Tentukan tujuan

c. Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan

d. Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)

e. Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan

Eksposisi

Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Langkah menyusun eksposisi:

a. Menentukan topik/tema

b. Menetapkan tujuan

c. Mengumpulkan data dari berbagai sumber

d. Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih

e. Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

Contoh topik yang tepat untuk eksposisi:

- Manfaat kegiatan ekstrakurikuler

- Peranan majalah dinding di sekolah

- Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.

Argumentasi

Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Langkah menyusun argumentasi:

a. Menentukan topik/tema

b. Menetapkan tujuan

c.Mengumpulkan data dari berbagai sumber

d. Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih

e. Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi

Contoh tema/topik yang tepat untuk argumentasi:

Disiplin kunci sukses berwirausaha,

Teknologi komunikasi harus segera dikuasai,

Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial.

Persuasi

Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

Langkah menyusun persuasi:

a. Menentukan topik/tema

b. Merumuskan tujuan

c. Mengumpulkan data dari berbagai sumber

d. Menyusun kerangka karangan

e. Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi

Contoh tema/topik yang tepat untuk persuasi:

Katakan tidak pada NARKOBA,


Penggunaan Bahasa Tulis

Dalam menggunakan kata dan frase

1. hendaknya dihindari pemakaian kata atau frase tutur dan kata atau frase setempat, kecuali bila sudah menjadi perkataan umum.

2. hendaknya dihindarkan pemakaian kata atau frase yang telah usang atau mati.

3.hendaknya kata atau frase yang bernilai rasa digunakan secara cermat, sesuai dengan suasana dan tempatnya.

4. hendaknya kata-kata sinonim dipakai secara cermat pula karena kata-kata sinonim tidak selamanya sama benar arti pemakaiannya.

5.hendaknya istilah-istilah yang sangat asing bagi umum tidak dipakai dalam karangan umum

6.hendaknya dihindari pemakaian kata asing atau kata daerah bila dalam bahasa Indonesia sudah ada katanya, jangan menggunakan kata asing hanya karena terdorong untuk bermegah dan berbahasa tinggi

7.untuk memperkecil banyaknya kata kembar dan kata bersaingan, dan untuk menghindari beban atau pemberat yang tidak perlu dalam pemakaian bahasa, sebaiknya dipedomani kelaziman dan ketentuan ejaan

Dalam menyusun kalimat

1. gunakanlah kalimat-kalimat pendek

2. gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang

3. gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya

4. gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk

5. gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif

6. gunakan bahasa padat dan kuat

7. gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif

Langkah-langkah Pembuatan

Langkah-langkah pokok pembuatan karangan ilmiah adalah sebagai berikut :

a. Memilih sebuah pokok soal (topik) yang dapat ditulis sesuai dengan minat Anda, minat pembaca, arti penting topik, fasilitas, dan kesempatan

b. Mencari sumber yang autoratif

c. Membatasi pokok soal yang akan dibicarakan agar pengumpulan data, informasi, dan fakta serta pengolahannya terfokus dan agar karangan dapat dikembangkan secara memadai, yaitu pernyataan-pernyataan pendirian didukung dengan hal-hal yang konkret dan spesifik

d. Menentukan suatu tesis percobaan (tentative) atau garis besar acuan sementara yang menjadi arah umum dan tujuan yang hendak dicapai

e. Mencari di perpustakaan judul-judul buku dan artikel yang membicarakan topik yang telah dipilih dan dibatasi.

f. Mengumpulkan/meminkjam buku-buku dan bacaan yang lain yang akan dipakai sebagai sumber. Pertama-tama kumpulkan semua bacaan/buku yang diperkirakan dapat menjadi sumber (working bibliography); working bibliography masih akan dipilih untukmenyusun final bibliography, yaitu sejumlah buku sumber yang sungguh-sungguh akan dipakai untuk menulis karangan ilmiah

g. Mencatat tiap judul buku/bacaan pada sebuah kartubibliography, lengkap dengan data tentang nama pengarang dan publokasinya. Kartu-kartu bibliografi ini diperlukan untuk menyusun catatan kaki,/catatan akhir dan daftar pustaka/daftar acuan kelak.

h.Membaca buku-buku/bacaan-bacaan sumber dengan membuat catatan-catatan, misalnya catatan dengan sistem kartu. Catatan ini dapat berupa kutipan, sitiran, ringkasan atau komentar pribadi.

i. Menata bahan-bahan yang terkumpul berupa catatan-catatan menjadi suatu garis besar (kerangka karangan,outline). Setelah bahan-bahan itu ditata, akan terlihat bagian yang sudah cukup bahannya, bagian yang belum cukup bahannnya, dan bagian yang masih perlu ditambah dengan bahan yang lain. Dalam hal terakhir ini, Anda harus membaca buku-buku lain lagi serta mengadakan pengamatan, wawancara dan sebagainya.

j. Merumuskan tesis final

k. Menyusun kerangka karangan yang final.

Menulis draft pertama karangan (karangan sementara). Pengantar (introduksi) tidak selalu yang pertama kali disusun. Mungkin saja batang tubuh karangan ditulis terlebih dahulu, kemudian penutupnya berupa ringkasan atau kesimpulan. Setelah itu, baru disusun pengantarnya. Logikanya ialah bahwa setelah mengetahui kemana pembaca harus diantar, dengan mudah kita menuliskan pengantarnya. Dalam menulis karangan sementara ini, kutipan, catatan kaki atau catatan akhir hendaknya diletakkan pada tempatnya dan ditulis dengan jelas dan setepat-tepatnya.

Bentuk-bentuk Karangan

1. Non Ilmiah (Fiksi) adalah Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb.
2. Semi Ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen. Karakteristiknya : berada diantara ilmiah.
3. Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar. Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:

a. Makalah: karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan)

b. Kertas kerja: makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.

c. Skripsi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain.

d. Tesis: karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.

e. Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci.

Karya Ilmiah
Karya ilmiah lazim juga disebut karangan ilmiah. Lebih lanjut, Brotowidjoyo menjelaskan karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya / keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11). Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah biasa dijadikan acuan (referensi) ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah. Menurut John Dewey ada 5 langkah pokok proses ilmiah, yaitu (1) mengenali dan merumuskan masalah, (2) menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis, (3) merumuskan hipotesis atau dugaan hasil sementara, (4) menguji hipotesis, dan (5) menarik kesimpulan. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang tertentu yang dipelajari. Ketika mahasiswa melakukan praktikum, ia sebetulnya sedang melakukan verifikasi terhadap proses penelitian yang telah dikerjakan ilmuwan sebelumnya. Kegiatan praktikum didesain pula untuk melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.

Ciri Karya Ilmiah. Secara ringkas, ciri-ciri karya ilmiah dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Objektif. Keobjektifan ini tampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memvertifikasi) kebenaran dan keabsahannya.

b. Netral. Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.

c. Sistematis. Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.

d. Logis. Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.

e. Menyajikan Fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.

f. Tidak Pleonastis. Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat. Kata-katanya jelas atau tidak berbelit- belit (langsung tepat menuju sasaran).

g. Bahasa yang digunakan adalah ragam formal. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Nonilmiah

Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi. Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi. Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.

Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah / ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.

Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.

Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat (1) emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi, (2) persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative, (3) deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan (4) jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.

Pada dasarnya metode ilmiah menggunakan dua pendekatan, yaitu : Pendekatan rasional.Pendekatan rasional berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan kajian data yang diperoleh dari berbagai rujukan (literatur). Pendekatan empiris. Pendekatan empiris berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan fakta yang diperoleh dari lapangan atau hasil percobaan (laboratorium).

Pengertian karangan ilmiah

Karangan ilmiah ialah karya tulis yang memaparkan pendapat, gagasan, tanggapan atau hasil penelitian yang berhubungan dengan kegiatan keilmuan. Jenis karangan ilmiah banyak sekali, diantaranya makalah, skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Kalaupun jenisnya berbeda-beda, tetapi keempat-empatnya bertolak dari laporan, kemudian diberi komentar dan saran. Perbedaannya hanyalah dalam kekomplekskannya.

Ciri-ciri karangan ilmiah

Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri, antara lain:

a. Jelas. Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.

b. Logis. Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.

c. Lugas. Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.

d. Objektif. Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.

e. Seksama. Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya

f. Sistematis. Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan

g. Tuntas. Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.

Ragam ilmiah

Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis. Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa bentuk luas dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat pada ciri bahasa ilmu, seperti berikut ini:

a. Baku. Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.

b. Logis. Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal.

c. Kuantitatif. Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti.

d.Tepat. Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda.

e. Denotatif yang berlawanan dengan konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.

f. Runtun. Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.

Sumber :

W. J. S Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang, cetakan ke-2, 1979

H. Rosihan Anwar, Bahasa Jurnalistik dan Komposisi, cetakan ke-3, 1984

Dra. Ny. A Subantari R, Drs. Amas Suryadi. Drs. K. Zainal Muttaqin. “Bahasa Indonesia dan Penyusunan Karangan Ilmiah.” Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati, 1998.

Drs. Sutedja Sumadipura, Dra. Harmoni Syam. “Mampu Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.” Bandung: 1996.

Drs. M.E. Suhendar, M.Pd. “Pengajaran dan ujian Keterampilan Membaca dan Ketrampilan Menulis.”

Nama : katherine fernanda gunawan

Kelas : 3ea10

NPM : 11207246

Tugas Bahasa Indonesia Penalaran

Penalaran

Pendahuluan

Berfpikir ilmiah berbeda dengan berpikir biasa. Kebenaran, yang menjadi tujuan ilmu, dicapai melalui sarana dan metode khusus, yang dinamakan metode ilmiah. Dalam dunia ilmu, dikenal beberapa sarana berpikir ilmiah, yakni bahasa, logika, matematik, dan atatistik. Bahasa sangat penting dalam pergaulan sehari-hari dan dunia keilmuan. Bahasa merupakan pembeda antara manusia dan hewan. Hanya manusia dapat berbahasa. Mungkin orang berkata: ada sejumlah jenis hewan yang bisa berbahasa, sebab itu bahasa bukan monopoli manusia. Tetapi kita harus menjawab keberatan ini dengan berkata bahwa apa yang disinyalir sebagai bahasa pada hewan-hewan tertentu itu bukan bahasa, melainkan gejala prabahasa. Kekhasan manusia dengan bahasa ini menyebabkan manusia sering dinamakan animal symbolicum (hewan yang menggunakan simbol).

Masalah

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, disimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

Penjabaran Isi

Metode dalam menalar

Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

Induktif

- Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.

- Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.

- Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

- Penalaran bergerak dari hal-hal khusus kepada yang umum (sebab mulai dengan pengalaman)

- Kesimpulan lebih luas dari premis.

- Contoh : Logam 1 dipanasi dan memuai (premis mayor)

Logam 2 dipanasi dan memuai (premis minor)

Semua logam dipanasi dan memuai (konklusi)

Deduktif

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum (universal) terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus (partikular). Kesimpulan lebih sempit dari premis.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Pengertian Penalaran

Penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran, dan sebab itu lebih rumit dibanding pengertian dan preposisi. Secara sederhana penalaran dapat didefinsikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proposisi-proposisi yang mendahuluinya.

Contoh :

Logam 1 dipanasi dan memuai

Logam 2 dipanasi dan memuai

Logam 3 dipanasi dan memuai

dan seterusnya

jadi : semua logam yang dipanasi memuai

Hukum-hukum Penalaran

Perlu dipahami ”bahwa yang benar” tidak sama dengan ”yang logis”. Yang benar adalah suatu proposisi. Sebuah proposisi itu benar kalau ada kesesuaian antara subyek dam predikat. Yang logis adalah penalaran, dinamakan penalaran yang logis kalau mempunyai bentuk yang tepat, dan sebab itu penalaran yang sahih. Maka, hubungan kebenaran antara premis dan konklusi dapat dirumuskan dalam hukum-hukum sebagai berikut :

Hukum pertama :

Apabila premis benar, konklusi salah

Contoh :

Semua manusia akan mati

Ali adalah manusia

Jadi: Ali akan mati

Premis mayor benar dan premis minor benar, konklusi juga benar.

Hukum kedua :

Apabila konklusi salah, premisnya juga salah

Contoh :

Semua manusia akan mati

Malaikat adalah manusia

Jadi: Malaikat akan mati

Konklusinya salah, sebab itu premisnya (kedua-duanya atau salah satunya) pasti salah. Premis mayor benar, dan premis minor salah, sebab malaikat memang bukan manusia. Konklusi salah karena premis minornya salah.

Hukum ketiga:

Apabila premisnya salah, konklusi dapat benar dapat salah

Contoh :

Malaikat itu benda fisik

Batu itu malaikat

Jadi batu itu benda fisik

Kedua premisnya salah, tetapi konklusinya benar.

Hukum keempat :

Apabila konklusi benar, premis dapat salah dapat benar

Contoh : lihat contoh di atas.

Kesesatan (fallacy)

Penalaran yang tidak sahih atau tidak tepat dinamakan penalaran yang sesat disingkat dengan kesesatan atau falaccy

Paralogis adalah kesesatan yang tidak disadari (tidak sengaja), dan terjadi karena pembicara kurang menguasai hukum-hukum penalaran. Sebaliknya, pembicara mengemukakan dengan sengaja menggunakan kesesatan untuk tujuan tertentu dinamakan sofis. Sofis memiliki dasar logika dan argumentasi yang kuat, dan dapat menjebak lawan bicara untuk kepentigan sendiri.

Kesesatan dapat terjadi karena bahasa (semantik) dan relevansi antara pernis dan konklusi. Berikut macam-macam kesesatan ;

Kesesatan karena term ekuivok

Kata yang digunakan mempunyai arti lebih dari satu, sehingga penafsirannya berbeda.

Contoh :

Malang itu kota yang indah

Orang miskin bernasib malang

Jadi : orang miskin bernasib indah

Kesesatan amfiboli

Kesesatan ini terjadi karena struktur kalimat dibuat sedemikian sehingga dapat ditafsirkan ganda

Contoh :

(dari iklan di media massa) ”Dijual segera : kursi tinggi untuk bayi dengan kaki patah”

Kesesatan komposisi

Kesesatan ini terjadi karena pencampuradukan term yang bersifat kolektif dan distributif.

Contoh :

Sebuah sekolah, terdiri atas bangunan tempat belajar, laboratorium dan sebuah ruangan untuk olahraga, yang semuanya mempunyai luas 800 meter persegi.

Kata ”luas” dapat berarti luas sekolah seluruhnya 800 m2, atau setiap bagian sekolah seluas 800 m2 sehingga luas keseluruhan 2400 m2.

Kesesatan dalam pembagian

Kesesatan ini terjadi kerena anggapan bahwa apa yang benar bagi keseluruhan, berlaku bagi individu, kebalikan dari kesesatan komposisi.

Contoh :

Semua gadis Bali pandai menari

Ni Made Swasti adalah gadis Bali

Jadi : Ni Made Swasti pandai menari

Kesesatan aksentuasi

Kesesatan terjadi karena aksen bicara, aksen berbeda menyebabkan beda penafsiran.

Contoh :

Sesama teman harus saling menolong

Ada dua penafsiran, yang pertama bila sesuatu terjadi teman harus ditolong termasuk menyembunyikan dari kejaran polisi, atau yang ditolong hanya teman dan yang bukan tidak harus ditolong yang kedua.

Kesesatan karena relevansi

Kesesatan ini terjadi karena menurunkan konklusi yang tidak punya relevensi dengan premis, tidak ada hubungan logis antara konklusi dan premis. Jenis kesesatan relevensi :

a. Argumentum ad hominem

artinya argumen yang ditujukan kepada orangnya, terjadi bila orang menerima atau menolak suatu argumentasi bukan karena alasan logis, tetapi pamrih lawan pembicara. Contoh : disebuah sidang, jaksa penuntut tidak memberikan bukti secukupnya tentang kesalahan terdakwa tapi membeberkan sejarah hidup terdakwa yang penuh kebajikan, agar mempengaruhi keputusan hakim.

b. Argumentum ad verecundiam

terjadi bukan kerena penalaran logis, tetapi yang mengemukakan orang yang berwibawa dan dapat dipercaya.

c. Argumentum ad baculum

berarti tongkat pemukul, terjadi bila orang menolak atau menerima suatu argumen bukan dasar penalaran logis tapi karena ancaman sehingga diterima karena takut.

d. Argumentum ad populum

artinya ditujukan kepada rakyat, pernyataan yang membangkitkan emosi massa. Digunakan oleh para jurukampanye.

e. Argumentum ad misericordiam

untuk menggugah belas kasian.

f. Post hoc propter hoc

terjadi karena menganggap sesuuatu sebagai sebab pedahal bukan. Contoh : matahari terbit sesudah ayam. Jadi : terbitnya matahari disebabkan kokok ayam.

g. Petitio Principii

terjadi karena orang ingin membuktikanyang harus dibuktikan. Apa yang harus dibuktikan (konklusi) digunakan sebagai premis sehingga terjadi circulus vitiosus (lingkaran setan), dasarnya sama dengan tautologi.

h. Argumentum ad ignorantiam

pembuktian tanpa dasar, tapi lawan bicara tidak dapat mengugurkannya dengan alasan kuat. Berkaitan dengan hal-hal yang sulit dibuktikan sevara empiris, seperti gejala psikis, telepati, paranormal.

Kesimpulan

Dari uraian diatas, ada beberapa pokok pikiran sebagai kesimpulan ;

Gejala bahasa hanya dapat terjadi pada manusia. Bahasa membedakan manusia dari hewan. Manusia disebut symbolicum (=hewan yang dapat menggunakan simbol). Penalaran (reasoning) merupakan bentuk pemikiran yang paling rumit. Bentuk pemikiran lainnya ialah pengertian (konsep) dan pernyataan (proposisi). Empat hukum penalaran merupakan panduan untuk mengukur hubungan logis antara premis dan konklusi. Kemampuan untuk penalaran sahih dapat ditingkatkan dengan mempelajari hukum-hukum logika, guna menghindari dari kemungkinan melakukan kesesatan penalaran.

Sumber :

Wikipedia

http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/wacana/173-penalaran.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/filsafat_ilmu/bab6-penalaran.pdf

Nama : Katherine Fernanda Gunawan

Kelas : 3ea10

NPM : 11207246

Dosen : Sepitri Daruyani

Rabu, 23 Februari 2011

TOEFL

(Test Of English as a Foreign Language)

Will help learn new phrases, idioms, expressions and English grammar structures and won't even have to cram any grammar rules or vocabulary words into our head, also will be absorbing bits and pieces of the English language almost without realizing it. This compact TOEFL Test Package is the only printable English test and flash card collection currently available on the Internet. It contains 120 TOEFL vocabulary tests and 100 TOEFL grammar tests, also get 600 TOEFL Words as Flashcards and TOEFL Vocabulary words with sentences in alphabetical order. This unique system will help learn all the difficult academic vocabulary words as need if want to pass the TOEFL prepare for the TOEFL (Test Of English as a Foreign Language) to reach a high score.

At English-test.net can take free interactive questions to increase TOEFL vocabulary and learn the TOEFL words. In addition speak to other people who are preparing for the TOEFL to share experiences on the TOEFL forum. TOEFL is an acronym that stands for Test of English as a Foreign Language. It measures your proficiency in the English language in an academic context. Most universities and colleges in the US and Canada require to take the TOEFL test if want to apply for a place to study there. In most countries the TOEFL is a computer-based test (CBT), this means have to follow instructions on a screen and answer questions interactively. The TOEFL test consists of the following disciplines: reading, listening and writing. If want to score high marks in all three sections, need an extensive vocabulary.

The test have analyzed typical TOEFL test questions to pick out those words that occur frequently. Then created interactive multiple choice tests that will help learn essential TOEFL vocabulary. If a graduate student it tells the school if prepared to be a teaching assistant to give lectures or not but the score poorly will end up being a grader or a lab guy, also have to probably take a speak test and take classes in conversation. The score indicates proficiency in the English language and is used to determine employment qualification for teaching positions, primarily. American colleges often require a certain proficiency in English from its foreign students, so they will specify to have taken the TOEFL test and passed with a certain score as a requirement for admission.

The Test of English as a Foreign Language, evaluates the ability of an individual to use and understand English in an academic setting. Sometimes is an admission requirement for non-native English speakers at many English-speaking colleges and universities. Additionally, institutions such as government agencies, businesses, or scholarship programs may require this test. A TOEFL score is valid for two years and then will no longer be officially reported Colleges and universities usually consider only the most recent TOEFL score. The TOEFL test is a registered trademark of Educational Testing Service (ETS) and is administered worldwide. The Test of English as a Foreign Language evaluates the ability of an individual to use and understand English in an academic setting.

Test takers must register in advance either online or by using the registration form provided in the Supplemental Paper TOEFL Bulletin. They should register in advance of the given deadlines to ensure a place because the test centers have limited seating and may fill up early. Tests are administered on fixed dates 6 times each year. The test is 3 hours long and all test sections can be taken on the same day. Students can take the test as many times as they wish. However, colleges and universities usually consider only the most recent score. Most colleges use TOEFL scores, as only one factor in their admission process. Each college or program within a college often has a minimum TOEFL score required. The minimum TOEFL scores range from 61 (Bowling Green State University) to 100 (MIT, Columbia, Harvard). A sampling of required TOEFL admissions scores shows that a total TOEFL score of 74.2 for undergraduate admissions and 82.6 for graduate admissions may be required. It is recommended that students check with their prospective institutions directly to understand TOEFL admissions requirements.

Nama : Katherine F.G

Kelas : 4ea10

NPM : 11207246

Dosen : R Oegih Sugesti

http://www.dictionary30.com/encyclopedia.php?subject=TOEFL

http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20070928121223AA4JT9B

http://www.dictionary30.com/meaning/TOEFL