Jumat, 08 April 2011

Tulisan Bahasa Indonesia

Salah Kaprah Penggunaan Bahasa Indonesia

Bergandengan dan Saling Pukul

"Ia berjalan bergandengan tangan." Mengapa tidak ditulis: "Mereka berjalan bergandengan tangan?" Benar, jika ditulis, "Ia bergandengan tangan dengan pacarnya."

"Saling pukul-memukul." Tidakkah yang lebih cermat dan padat adalah pukul-memukul atau saling pukul?

Aktifitas atau Aktivitas?

Dua cara penulisan ini sering kita temukan. Mana yang benar? Kata itu diserap dari bahasa Inggris "activity" atau, dulu, kata Belanda, "activiteit".

Kita perlu mengganti huruf jika bunyi yang dilambangkannya membedakan makna dalam bahasa Indonesia. Huruf c pada kata asingnya ditukar dengan k karena melambangkan bunyi yang berbeda.

Bagaimana dengan v? Tidak perlu karena bunyi yang dilambangkannya dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna.

Jadi, yang benar aktivitas. (Catatan: akhiran -(i)tas dari bahasa Latin dipilih karena pada waktu itu orang tidak menghendaki penyesuaian akhiran Inggris atau Belanda.)

Mengapa kita menulis aktif, bukan aktiv? Karena, huruf v tidak kita gunakan di akhir kata umum dalam bahasa Indonesia.

Jadi, "active" kita serap menjadi aktif. Huruf v di tengah kata tidak diubah. Contoh lain, produktif-produktivitas, agresif-agresivitas, positif-positivisme, dan motif-motivasi.

Standarisasi Atau Standardisasi?

Kasus ini mirip dengan aktifitas dan aktivitas. Kata asing "standard" kita serap dengan menghilangkan huruf d karena bunyi yang dilambangkan cenderung tidak diucapkan dalam bahasa Indonesia. Jadi, yang benar adalah standar.

Kata "standardisation" (Inggris) atau "standardisatie" (Belanda) kita serap menjadi standardisasi. Mengapa huruf d dipertahankan?

Bunyi d dapat kita lafalkan sehingga secara keseluruhan lafal dan tulisan standardisasi lebih dekat dengan lafal dan tulisan kata asingnya walau di sana-sini sudah ada penyesuaian.

Baik dicatat, dalam hal menyesuaikan tulisan dan lafal kata serapan, apa yang bisa dipertahankan sebaiknya tidak diubah sehingga dapat lebih dekat dengan bentuk aslinya. Hal itu memudahkan penelusuran asal-usul kata.

Ganti Untung

Baru-baru ini ada berita tentang lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Sebuah stasiun televisi mengatakan bahwa korban lumpur Lapindo menuntut agar ganti untung segera dicairkan.

Apa itu ganti untung?

Istilah yang lazim kita dengar dan juga kita gunakan adalah ganti rugi. Dalam tata bahasa, ganti rugi disebut kata majemuk. Ada bentuk-bentuk kata majemuk serupa itu, misalnya meja tulis.

Yang dimaksud meja tulis adalah meja untuk menulis. Buku gambar adalah buku untuk menggambar. Anak angkat artinya orang (biasanya berusia muda) yang tidak bertalian darah, yang diangkat menjadi anak sendiri. Contoh lain adalah cetak ulang, yang artinya pencetakan ulang.

Pada contoh-contoh itu terlihat ada pemendekan bentuk. Menulis menjadi tulis, menggambar menjadi gambar, diangkat menjadi angkat, dan pencetakan menjadi cetak. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada kata ganti rugi, hasil pemendekan dari penggantian kerugian atau sekurang-kurangnya dari ganti kerugian.

Jadi, apa yang dimaksud dengan ganti untung pada berita itu? Dengan analogi tersebut, ganti untung dapat ditafsirkan sebagai penggantian keuntungan atau ganti keuntungan. Hal ini tentu saja tidak masuk akal. ("Keuntungan kok diganti!").

Konon yang menciptakan istilah itu bermaksud agar korban seperti warga Porong itu mendapat penggantian yang menguntungkan, bukan yang merugikan. Dengan mengubah ungkapan ganti rugi menjadi ganti untung diharapkan kompensasi yang dimaksudkan menguntungkan pihak korban.

Terlepas dari niat baik penulis berita, pengubahan istilah itu jelas mengacaukan makna. Di samping itu, kalau korban manjadi untung, bukankah lalu ada pihak yang merugi? Nah, kalau pihak yang merugi itu adalah pihak yang harus menyediakan dana penggantian, pantas saja kalau mereka menunda-nunda atau enggan melaksanakan. Singkat kata, meniru gaya Tukul, kembali ke ganti rugi!

Akibat yang Mengakibatkan

Coba perhatikan kutipan ini. "Akibat kebakaran itu mengakibatkan pedagang kehilangan tempat usaha." Hah!

Hati-hati menyusun kalimat yang mengandung hubungan kausalitas.

Sebetulnya ada cara yang sederhana. Gunakan saja kata hubungan, seperti sebab, karena, akibat, sehingga, dan boleh juga maka, misalnya begini:

  1. Persidangan itu ditunda sebab hakimnya sakit;
  2. Pertandingan terpaksa dihentikan karena hujan deras;
  3. Akibat perbuatannya itu, ia dihukum dua tahun penjara; atau
  4. Kasus itu sudah diputuskan secara adil, maka demo tidak perlu lagi.

Kata sebab dan akibat juga bisa menjadi dasar kata kerja mengakibatkan dan menyebabkan. Keduanya kurang lebih berarti sama. Contohnya seperti ini.

  1. Angin puting beliung itu mengakibatkan kerusakan di desa Sukoharjo, Sleman, Yogyakarta.
  2. Kebijakan pemerintah menyebabkan pelaksanaan pemerintahan terus-menerus dipantau dan dikritik rakyat.

Lalu bagaimana dengan kalimat yang dikutip tadi? Kacau alias rancu! Sebaiknya kalimat itu berbunyi: "Akibat kebakaran itu para pedagang kehilangan tempat usaha," atau, "Kebakaran itu menyebabkan pedagang kehilangan tempat usaha."

Menurut Siapa Mengatakan Apa

Ditemukan kalimat seperti ini. "Menurut seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."

Kalau kita analisis, mana subjek kalimat itu? Seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia?

Memang, bagian itulah yang menjadi pokok untuk kata kerja mengatakan. Namun, kalau itu subjeknya, mengapa didahului kata menurut?

Apakah kita dapat mengatakan kalimat yang lebih sederhana ini: "Menurut dia mengatakan begitu?" Aneh, bukan?

Pemecahan sederhana: buang saja kata menurut sehingga kalimat itu menjadi: "Seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."

Bagaimana jika kita ingin menggunakan kata menurut? Karena kata itu mengawali bagian yang disebut keterangan, jangan lupakan kalimat induknya. Inilah perbaikannya: "Menurut seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia, harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."

Jumlah Korban Yang Meninggal Berjumlah Enam Orang

Menyusun kalimat perlu cermat. Biasanya, kalimat yang ringkas lebih mudah dipahami informasinya.

Kalimat yang jelas informasinya adalah kalimat yang efektif. Itulah sebabnya, para penulis ulung sering memberi nasihat para pemula untuk membuat tulisan dengan kalimat-kalimat pendek.

Kalimat yang singkat dan padat tidak memuat kata yang tidak diperlukan.

Kata yang berlebihan dapat mengaburkan pokok masalah. Oleh sebab itu, hindari unsur kalimat yang memiliki fungsi yang sama.

Mari kita simak kutipan yang menjadi judul tulisan ini.

Mungkin dengan mudah masalahnya kita temukan, yakni pemakaian kata jumlah dan berjumlah. Aneh sekali jika kita mengatakan bahwa jumlah anu berjumlah sekian.

Kalimat aslinya sebenarnya jauh lebih panjang sehingga kejanggalan itu tidak disadari pembuatnya: jumlah korban yang ditemukan meninggal dalam kecelakaan kapal penumpang itu berjumlah 356 orang.

Jika memang perlu membuat kalimat panjang, jangan lupakan kecermatan. Kalimat tadi dapat diperbaiki dengan mengubahnya sebagai berikut.

Korban yang ditemukan meninggal dalam kecelakaan kapal penumpang itu berjumlah 356 orang.

Dapat juga dipertimbangkan pengubahannya menjadi seperti kalimat di bawah ini.

Jumlah korban yang ditemukan meninggal dalam kecelakaan kapal penumpang itu mencapai 356 orang.

BIDARA Program Budaya 93,4 FM RRI Denpasar
Rabu (13/6) Pukul 18.15 Wita
Topik: "Sopan Santun Berbahasa"
Narasumber: Drs. I Nengah Sukartha, S.U.

http://pelitaku.sabda.org/salah_kaprah_penggunaan_bahasa_indonesia

Nama : katherine fernanda gunawan

Kelas : 3EA10

NPM : 11207246

Tulisan Bahasa Indonesia

Salah Kaprah Penggunaan Bahasa Indonesia

Bergandengan dan Saling Pukul

"Ia berjalan bergandengan tangan." Mengapa tidak ditulis: "Mereka berjalan bergandengan tangan?" Benar, jika ditulis, "Ia bergandengan tangan dengan pacarnya."

"Saling pukul-memukul." Tidakkah yang lebih cermat dan padat adalah pukul-memukul atau saling pukul?

Aktifitas atau Aktivitas?

Dua cara penulisan ini sering kita temukan. Mana yang benar? Kata itu diserap dari bahasa Inggris "activity" atau, dulu, kata Belanda, "activiteit".

Kita perlu mengganti huruf jika bunyi yang dilambangkannya membedakan makna dalam bahasa Indonesia. Huruf c pada kata asingnya ditukar dengan k karena melambangkan bunyi yang berbeda.

Bagaimana dengan v? Tidak perlu karena bunyi yang dilambangkannya dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna.

Jadi, yang benar aktivitas. (Catatan: akhiran -(i)tas dari bahasa Latin dipilih karena pada waktu itu orang tidak menghendaki penyesuaian akhiran Inggris atau Belanda.)

Mengapa kita menulis aktif, bukan aktiv? Karena, huruf v tidak kita gunakan di akhir kata umum dalam bahasa Indonesia.

Jadi, "active" kita serap menjadi aktif. Huruf v di tengah kata tidak diubah. Contoh lain, produktif-produktivitas, agresif-agresivitas, positif-positivisme, dan motif-motivasi.

Standarisasi Atau Standardisasi?

Kasus ini mirip dengan aktifitas dan aktivitas. Kata asing "standard" kita serap dengan menghilangkan huruf d karena bunyi yang dilambangkan cenderung tidak diucapkan dalam bahasa Indonesia. Jadi, yang benar adalah standar.

Kata "standardisation" (Inggris) atau "standardisatie" (Belanda) kita serap menjadi standardisasi. Mengapa huruf d dipertahankan?

Bunyi d dapat kita lafalkan sehingga secara keseluruhan lafal dan tulisan standardisasi lebih dekat dengan lafal dan tulisan kata asingnya walau di sana-sini sudah ada penyesuaian.

Baik dicatat, dalam hal menyesuaikan tulisan dan lafal kata serapan, apa yang bisa dipertahankan sebaiknya tidak diubah sehingga dapat lebih dekat dengan bentuk aslinya. Hal itu memudahkan penelusuran asal-usul kata.

Ganti Untung

Baru-baru ini ada berita tentang lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Sebuah stasiun televisi mengatakan bahwa korban lumpur Lapindo menuntut agar ganti untung segera dicairkan.

Apa itu ganti untung?

Istilah yang lazim kita dengar dan juga kita gunakan adalah ganti rugi. Dalam tata bahasa, ganti rugi disebut kata majemuk. Ada bentuk-bentuk kata majemuk serupa itu, misalnya meja tulis.

Yang dimaksud meja tulis adalah meja untuk menulis. Buku gambar adalah buku untuk menggambar. Anak angkat artinya orang (biasanya berusia muda) yang tidak bertalian darah, yang diangkat menjadi anak sendiri. Contoh lain adalah cetak ulang, yang artinya pencetakan ulang.

Pada contoh-contoh itu terlihat ada pemendekan bentuk. Menulis menjadi tulis, menggambar menjadi gambar, diangkat menjadi angkat, dan pencetakan menjadi cetak. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada kata ganti rugi, hasil pemendekan dari penggantian kerugian atau sekurang-kurangnya dari ganti kerugian.

Jadi, apa yang dimaksud dengan ganti untung pada berita itu? Dengan analogi tersebut, ganti untung dapat ditafsirkan sebagai penggantian keuntungan atau ganti keuntungan. Hal ini tentu saja tidak masuk akal. ("Keuntungan kok diganti!").

Konon yang menciptakan istilah itu bermaksud agar korban seperti warga Porong itu mendapat penggantian yang menguntungkan, bukan yang merugikan. Dengan mengubah ungkapan ganti rugi menjadi ganti untung diharapkan kompensasi yang dimaksudkan menguntungkan pihak korban.

Terlepas dari niat baik penulis berita, pengubahan istilah itu jelas mengacaukan makna. Di samping itu, kalau korban manjadi untung, bukankah lalu ada pihak yang merugi? Nah, kalau pihak yang merugi itu adalah pihak yang harus menyediakan dana penggantian, pantas saja kalau mereka menunda-nunda atau enggan melaksanakan. Singkat kata, meniru gaya Tukul, kembali ke ganti rugi!

Akibat yang Mengakibatkan

Coba perhatikan kutipan ini. "Akibat kebakaran itu mengakibatkan pedagang kehilangan tempat usaha." Hah!

Hati-hati menyusun kalimat yang mengandung hubungan kausalitas.

Sebetulnya ada cara yang sederhana. Gunakan saja kata hubungan, seperti sebab, karena, akibat, sehingga, dan boleh juga maka, misalnya begini:

  1. Persidangan itu ditunda sebab hakimnya sakit;
  2. Pertandingan terpaksa dihentikan karena hujan deras;
  3. Akibat perbuatannya itu, ia dihukum dua tahun penjara; atau
  4. Kasus itu sudah diputuskan secara adil, maka demo tidak perlu lagi.

Kata sebab dan akibat juga bisa menjadi dasar kata kerja mengakibatkan dan menyebabkan. Keduanya kurang lebih berarti sama. Contohnya seperti ini.

  1. Angin puting beliung itu mengakibatkan kerusakan di desa Sukoharjo, Sleman, Yogyakarta.
  2. Kebijakan pemerintah menyebabkan pelaksanaan pemerintahan terus-menerus dipantau dan dikritik rakyat.

Lalu bagaimana dengan kalimat yang dikutip tadi? Kacau alias rancu! Sebaiknya kalimat itu berbunyi: "Akibat kebakaran itu para pedagang kehilangan tempat usaha," atau, "Kebakaran itu menyebabkan pedagang kehilangan tempat usaha."

Menurut Siapa Mengatakan Apa

Ditemukan kalimat seperti ini. "Menurut seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."

Kalau kita analisis, mana subjek kalimat itu? Seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia?

Memang, bagian itulah yang menjadi pokok untuk kata kerja mengatakan. Namun, kalau itu subjeknya, mengapa didahului kata menurut?

Apakah kita dapat mengatakan kalimat yang lebih sederhana ini: "Menurut dia mengatakan begitu?" Aneh, bukan?

Pemecahan sederhana: buang saja kata menurut sehingga kalimat itu menjadi: "Seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."

Bagaimana jika kita ingin menggunakan kata menurut? Karena kata itu mengawali bagian yang disebut keterangan, jangan lupakan kalimat induknya. Inilah perbaikannya: "Menurut seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia, harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."

Jumlah Korban Yang Meninggal Berjumlah Enam Orang

Menyusun kalimat perlu cermat. Biasanya, kalimat yang ringkas lebih mudah dipahami informasinya.

Kalimat yang jelas informasinya adalah kalimat yang efektif. Itulah sebabnya, para penulis ulung sering memberi nasihat para pemula untuk membuat tulisan dengan kalimat-kalimat pendek.

Kalimat yang singkat dan padat tidak memuat kata yang tidak diperlukan.

Kata yang berlebihan dapat mengaburkan pokok masalah. Oleh sebab itu, hindari unsur kalimat yang memiliki fungsi yang sama.

Mari kita simak kutipan yang menjadi judul tulisan ini.

Mungkin dengan mudah masalahnya kita temukan, yakni pemakaian kata jumlah dan berjumlah. Aneh sekali jika kita mengatakan bahwa jumlah anu berjumlah sekian.

Kalimat aslinya sebenarnya jauh lebih panjang sehingga kejanggalan itu tidak disadari pembuatnya: jumlah korban yang ditemukan meninggal dalam kecelakaan kapal penumpang itu berjumlah 356 orang.

Jika memang perlu membuat kalimat panjang, jangan lupakan kecermatan. Kalimat tadi dapat diperbaiki dengan mengubahnya sebagai berikut.

Korban yang ditemukan meninggal dalam kecelakaan kapal penumpang itu berjumlah 356 orang.

Dapat juga dipertimbangkan pengubahannya menjadi seperti kalimat di bawah ini.

Jumlah korban yang ditemukan meninggal dalam kecelakaan kapal penumpang itu mencapai 356 orang.

BIDARA Program Budaya 93,4 FM RRI Denpasar
Rabu (13/6) Pukul 18.15 Wita
Topik: "Sopan Santun Berbahasa"
Narasumber: Drs. I Nengah Sukartha, S.U.

Nama : katherine fernanda gunawan

Kelas : 3EA10

NPM : 11207246

Laporan

A. Pengertian laporan

Laporan ialah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang berhubungan secara structural atau kedinasan setelah melaksanakan tugas. Laporan tersebut sebagai bukti pertanggung jawaban bawahan/petugas tim/panitia kepada atasannya atas pelaksanaan tugas yang diberikan.

Laporan merupakan hal penting dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan sehari-hari lapran dikenal dengan istilah pengaduan, dimana dapat juga menimbulkan percekcokan ataupun membawa manfaat kebaikan tergantung dari pemberi informasi atau bagaimana cara menangkap informasi tersebut.

Menurut FX Soedjadi mendefinisikan sebagai berikut :

Laporan adalah :

1. Suatu bentuk penyampain berita, keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban baik lisan maupun secara tertulis sesuai dengan hubungan wewenang (authority) dan tanggung jawab (responsibility).

2. Salah satu cara pelaksanaan komunikasi dari pihak yang satu kepada pihak lain.

Laporan mempunyai peran penting dalam suatu organisasi, karena hubungan antar atasan dan bawahan merupakan bagian keberhasilan organisasi tersebut, dengan terciptanya suatu sistem delegation of Authority dan pertanggungjawaban akan terlaksana secara effektif dan efisien.

Kerjasama yang baik dibina melalui komunikasi yang berbentuk lisan maupun tulisan (laporan). Laporan yang terformat dengan baik dan bagus dapat bermanfaat dalam berkomunikasi dalam mencapai tujuan organisasi.

Manfaat laporan bagi perusahaan sebagai berikut :

1. Perwujudan dari responsibility pelapor terhadap tugas yang dilimpahkan.

2. Alat memperlancar kerja sama dan komunikasi dalam mempengaruhi perseorangan.

3. Alat membuat Budgeting (anggaran), pelaksanaan, pengawawsan, pengendalian dan pengambilan keputusan.

4. Alat menukar informasi yang saling dibutuhkan dalam pekerjaan.

Syarat-syarat bermanfaat peranan laporan :

1. Clear

Kejelasan laporan dalam pemakaian bahasa, istilah, maupun kata-kata yang mudah dicerna, dipahami dan dimengerti bagi pembaca. Didukung oleh penguasaan materi laporan sehingga ada jaminan kejelasan suatu laporan.

2. Mengenai sasaran permasalahan

Hindari pemakaian kata-kata yang membingungkan atau tidak berlebihan, penyusunan kata maupun kaliamat harus jelas, singkat, sehingga tidak membingungkan dan dapat dimengerti.

3. Lengkap (complete)

Kelengkapan tersebut menyangkut :

a. permasalahan yang dibahas harus sudah terselesaikan sehingga tidak menimbulkan tanda tanya.

b. pembahasan urutan permasalahan harus sesuai dengan prioritas pentingnya permasalahan yang harus diselesaikan terlebih dahulu, didukung data-data statistik yang jelas dan lengkap.

4. Tepat waktu dan cermat

Tepat waktu dalam penyampaian laporan yang bersifat mendadak atau menyangkut tindakan koreksi yang harus disertai follow up, diusahakan dibuat secepatnya, sehingga menghindari pemborosan waktu maupun tenaga kerja.

5. Tetap (consistent)

Laporan yang disukung data bersifat tetap artinya selalu akurat dan tidak berubah-ubah sesuai dengan perubahan waktu dan keadaan, laporanpun lebih dapat dipercaya dan diterima. Keterangan dalam laporan tidak saling bertentangan dengan yang lain.

B. Jenis-jenis laporan

a. Laporan Program Kerja

b. Laporan Ilmiah

Sistematika laporan ilmiah

Laporan ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi hal-hal yang terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap. Laporan ilmiah atau laporan formal terdiri atas:

1. bagian awal, terdiri atas :

a. Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penuli, intansi asal, kota penyusunan, dan tahun

b. halaman pengesahan

c. halaman motto/semboyan

d. halaman persembahan

e. prakata

f. daftar isi

g. daftar table

h. daftar grafik

i. daftar gambar

j.abstrak: uraian singkat tentang isi laporan

2. bagian isi

a.bab I pendahuluan berisi tentang

(1) latar belakang

(2) identitas masalah

(3) pembatasan masalah

(4) rumusan masalah

(5) tujuan dan manfaat

b. Bab II: kajian pustaka

c. Bab III:metode

d. Bab IV:pembahasan

e. Bab V: penutup

3. Bagian Akhir

a. Daftar pustaka

b. Daftar lampiran

c. Indeks : daftar istilah

c. Laporan Pertanggung jawaban (Resmi)

Bentuk resmi dari suatu laporan harus memperhatikan soal-soal kerangka, sistematis teknis penulisannya. Laporan resmi tersusun secara tepat dan terperinci mengenai :

1. Halaman Judul.

2. Kata Pengantar.

3. Daftar Isi.

4. Daftar Tabel.

5. Daftar Gambar.

6. Pendahuluan.

7. Tubuh Laporan.

8. Kesimpulan dan Saran

9. Daftar Pustaka.

10. Lampiran

11. Daftar Petunjuk

Rabu, 06 April 2011

GIVE THANKS

Give thanks with a greatfull heart

Give thanks to the Holly one

Give thanks …

Because he’s given Jesus Christ his son

And now,

let the weak say I’m strong

let the poor say I’m rich

Because of what the Lord has done for us

Give thanks …

It’s not because today is a beautifull day, we become happy .....................

It’s because we are happy, then today become a beautifull day.

It’s not because there’s no abstacles, we become Optimist ………………

It’s because we are Optimist, then we don’t feel obstacles.

It’s not because easy, we become surely done something ……………………

It’s because we done surely something, then everything is easy for us.

It’s not because everybody kind to us, we smile for that ……………………

It’s because we smile to everybody then everything is become kind to us.

Forgiving people who has lie, makes loss, hurts to us that is helping ourselves to relief of disappointed, hated, and revenged

When You Believe

Many nights we prayed

With no proof anyone could hear

In our hearts a hope for a song

We barely understood

Now we are not afraid

Although we know there’s much to fear

We were moving mountains

Long before we knew, we could

There can be miracle

When you believe

Though hope is frail

It’s hard to kill

Who knows what miracles

You can achieve

When you believe somehow you will

You will when you believe

In this time of fear

When prayer so often proves in vain

Hope seems like summer bird

To swiftly flown away

Yet now I’m standing here

My heart so full, I can’t explain

Seeking faith and speaking words

I never thought I’d say

There can be miracle

When you believe

Though hope is frail

It’s hard to kill

Nama : Katherine Fernanda Gunawan

Kelas : 4EA10

NPM : 11207246

Tugas Bahasa Inggris Bisnis 2

About Business and Economic History



This archives contains the published proceedings of the Business History Conference from 1962 through 1999. Prior to 1975 the proceedings were published irregularly with varying titles and formats; the first volume appeared in 1962. Between 1975 and 1999 the proceedings were published regularly under the title Business and Economic History. In 1993 a second annual volume was introduced, containing revised versions of papers, including the Newcomen Prize Essay, selected after a refereeing process. All articles from these years may be found here, and indexes for Presidential Addresses, articles awarded the Newcomen Prize, and Krooss Dissertation Prize summaries can also be found on the navigation bar to the left, as well as a cumulative index by author.

The proceedings volumes have been the volunteer work of a series of editors: Albert K. Steigerwalt edited the 1962 Proceedings; J. V. Fenstermaker edited the 1965 volume. There was no editor indicated on the Proceedings of the 1967 conference published by the University of Western Ontario, though internal evidence suggests that Richard C. Overton served in that role. Fred Bateman and James D. Foust edited the 1968 proceedings. Charles J. Kennedy edited the proceedings of the conference held in 1969. This was published simultaneously in the Nebraska Journal of Economics and Business, 8, no. 3 (Summer 1969). Louis P. Cain edited the 1972 proceedings, which carried a publication date of 1973 and which began the Second Series. Allen L. Dickes edited the 1973 proceedings, and Herman E. Krooss edited the 1974 volume, which carries a publication date of 1975. Paul Uselding was responsible for establishing the current format of the journal and for assuring its regular appearance. He edited Business and Economic History from 1975 through 1980. Jeremy Atack was responsible for greatly enhancing the technical quality of the journal, which he edited from 1981 through 1987. William J. Hausman edited the journal from 1988 to 1998 and was responsible for the addition of a second issue each year; Roger Horowitz edited the 1999 volume.

With the founding of Enterprise & Society, the Business History Conference's quarterly scholarly journal, a variety of proposals were put forward for the handling of proceedings materials; for the first four years of Enterprise & Society (2000-2003), that journal contained the Presidential Address, Krooss Dissertation Session essays, and abstracts of the conference papers. Beginning with the 2003 meeting, all submitted abstracts and revised papers from the annual meeting can be found in BEH On-Line, edited by William J. Hausman, which becomes the Web-based successor to the printed Business and Economic History. Presidential addresses and Krooss Dissertation Session summaries continue to appear in Enterprise & Society.

http://www.h-net.org/~business/bhcweb/publications/BEHprint/aboutbeh.html

Nama : Katherine fernanda gunawan

Kelas : 4EA10

NPM : 11207246

TUGAS BAHASA INDONESIA

PROPOSAL

A. Pendahuluan

Proposal penelitian untuk skripsi merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilakukan sebagai bahan utama penulisan skripsi mahasiswa. Rancangan ini harus diseminarkan untuk penyempurnaan sehingga akan sangat membantu mahasiswa dalam melaksanakan penelitian di lapangan sekaligus membantu kelancaran mengumpulkan bahan skripsinya. Dalam pengertian lain, Proposal adalah suatu bentuk rancangan kegiatan yang dibuat dalam bentuk formal dan standar. Untuk memudahkan pengertian proposal yang dimaksud dalam tulisan ini, kita dapat membandingkannya dengan istilah “Proposal Penelitian” dalam dunia ilmiah (pendidikan) yang disusun oleh seorang peneliti atau mahasiswa yang akan membuat penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Dalam dunia ilmiah, proposal adalah suatu rancangan desain penelitian (usulan penelitian) yang akan dilakukan oleh seorang peneliti tentang suatu bahan penelitian. Bentuk “Proposal Penelitian” ini, biasanya memiliki suatu bentuk, dengan berbagai standar tertentu seperti penggunaan bahasa, tanda baca, kutipan dll. Secara mendasar, harus di garis bawahi bahwa penulisan proposal hanya salah satu dari sekian banyak tahap perencanaan, seperti yang telah diuraikan sebelumnya dalam buku ini. Penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang telah dibuat dalam tahap¬tahap sebelumnya. Ini berarti, tanpa terlebih dahulu melakukan langkah¬langkah sebagaimana yang diuraikan dalam buku ini, maka kemungkinan besar penulisan proposal akan menemui kesulitan.

Proposal adalah usulan untuk melakukan suatu kegiatan. Memperluas wawasan dapat dilakukan dengan cara mengadakan kegiatan ilmiah. Misalnya seminar atau karya wisata. Sebelum melaksanakan suatu kegiatan, sbeaiknya membuat proposal terlebih dahulu. Pengertian dari proposal adalah sebuah tulisan yang dibuat oleh si penulis yang bertujuan untuk menjabarkan atau menjelasan sebuah tujuan kepada si pembaca (individu atau perusahaan) sehingga mereka memperoleh pemahaman mengenai tujuan tersebut lebih mendetail. Diharapkan dari proposal tersebut dapat memberikan informasi yang sedetail mungkin kepada si pembaca, sehingga akhirnya memperoleh persamaan visi, misi, dan tujuan.


Ada beberapa hal yang biasanya di detailkan dalam proposal bisnis:

  1. Penjabaran mendetail mengenai tujuan utama dari si penulis kepada pembacanya.
  2. Penjabaran mendetail mengenai proses bagaimana mencapai tujuan si penulis kepada pembacanya.
  3. Penjabaran mendetail mengenai hasil dari proses yang telah dijabarkan diatas sehingga mencapai tujuan yang diinginkan oleh si penulis dan juga si pembaca.

Banyak orang yang tidak mengerti bagaimana caranya membuat proposal bisnis yang baik dan sukses, kebanyakan orang membuat proposal bisnis asal-asalan tanpa tahu bagaimana menjabarkan tujuan dibuatnya proposal bisnis tersebut. Sehingga isi proposal bisnis tidak terstruktur dengan benar sehingga mengakibatkan si pembaca proposal kurang mengerti apa yang diterangkan didalam proposal tersebut. Pembuatan proposal bisnis harus dimulai dengan tujuan yang jelas, apakah proposal bisnis tersebut dibuat dengan tujuan untuk meyakinkan investor ataukah proposal bisnis itu dibuat dengan tujuan untuk mengajak kerjasama, atau yang lainnya.

Ada beberapa hal yang biasanya di detailkan dalam proposal bisnis:
1. Penjabaran mendetail mengenai tujuan utama dari si penulis kepada pembacanya.
2. Penjabaran mendetail mengenai proses bagaimana mencapai tujuan si penulis kepada pembacanya.
3. Penjabaran mendetail mengenai hasil dari proses yang telah dijabarkan diatas sehingga mencapai tujuan yang diinginkan oleh si penulis dan juga si pembaca.

Proposal merupakan rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja. Proposal dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan izin atau persetujuan atas kegiatan yang akan dilaksanakan. Sebuah proposal harus menyajikan hal-hal berikut;

Sistematika Penulisan Proposal:
1. Pendahuluan :

a. Berisi tentang kondisi umum yang melatar belakangi dilaksanakan kegiatan.

b. Hubungan kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-­hari (nyata).
2.Dasar Pemikiran :

a. Berisi tentang dasar yang digunakan dalam pelaksanaan

b.Jika kegiatan tersebut bukan dari organisasi, maka didasarkan secara umum.

3.Tujuan Kegiatan :

Berisi uraian yang lebih terperinci terutama mengenai ukuran yang digunakan sebagai penilaian tercapai atau tidaknya tujuan

4.Tema Kegiatan :

Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut

5. Jenis Kegiatan :

a. Diperlukan untuk menjelaskan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan jika kegiatannya lebih dari satu,

b. Menjelaskan bentuk dari kegiatan tersebut. Misal: berupa Seminar, Pelatihan, penyampain materi secara lisan, Tanya jawab dan simulasi.

6. Target Kegiatan :

Berisi uraian yang lebih terperinci dari Tujuan (Point 3) terutama mengenai ukuran­ukuran yang digunakan sebagai penilaian tercapai atau tidaknya tujuan.

7. Sasaran / Peserta Kegiatan :

Menjelaskan tentang objek atau siapa yang akan mengikuti kegiatan tersebut (atau lebih kenal dengan peserta)

8.Waktu dan Tempat Pelaksanaan:

Tentukan dimana, hari, tanggal, bulan, tahun serta pukul berapa akan dilaksanakan kegiatan tersebut.

9. Anggaran Pelaksanaan :

Dalam anggaran hanya disebutkan jumlah total pemasukan dan pengeluaran yang diperkirakan oleh panitia, sedangkan rinciannya dibuat dalam lampiran tersendiri.

10.Susunan Panitia :

Dalam halaman atau bagaian susuna panitia, biasanya hanya ditulis posisi yang penting­penting saja, seperti Pelindung Kegiatan, Ketua panitia, Streering Commite dll, sedangkan kepanitian lengkap dicantumkan dalam lampiran.

11. Jadwal Pelaksanaan :

a. Dibuat sesuai dengan perencanaan dalam kalender Kegiatan yang telah disusun sebelumnya

b. Atau bisa juga ditulis terlampir, jika jadwalnya banyak.

12. Penutup :

a. Berisi tentang harapan yang ingin dicapai dan mohon dukungan bagi semua pihak.

b. Ditutup dengan lembar pengesahan proposal

c. Terakhir, diikuti dengan lampiran

Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum menulis sebuah proposal:

  • Mengerti akan tujuan dibuatnya proposal tersebut.
  • Mencari informasi umum mengenai peluang bisnis yang ada, dengan cara membaca majalah, buku, internet, atau surat kabar.
  • Mengetahui detail pelaksanaan yang akan terjadi.
  • Mengetahui Karakter Investor atau partner bisnis anda.

Proposal bisnis memiliki 2 buah tujuan, yaitu: 1. Sebagai pedoman dalam menjalankan bisnis sehingga arah dan tujuan yang diinginkan mempunyai jalur yang jelas dan pasti. 2. Sebagai alat untuk meyakinkan investor.

B. Pembahasan

Proposal Penelitian Skripsi

1. Pengertian Proposal

Proposal penelitian untuk skripsi merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilakukan sebagai bahan utama penulisan skripsi mahasiswa. Rancangan ini harus diseminarkan untuk penyempurnaan sehingga akan sangat membantu mahasiswa dalam melaksanakan penelitian di lapangan sekaligus membantu kelancaran mengumpulkan bahan skripsinya.

2. Karakteristik Proposal

Proposal penelitian mahasiswa memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

a. Merupakan suatu rancangan pokok penelitian yang akan dilakukan guna mengumpulkan bahan penulisan skripsi.

b. Memperlihatkan kemampuan mahasiswa terhadap permasalahan yang akan diteliti dan pendekatan atau metode yang digunakan dalam penelitian tersebut.

c. Ruang lingkup proposal sesuai dengan bidang kajian akademis mahasiswa.

d. Rancangan penelitian mengacu kepada permasalahan aktual dan memiliki kontribusi bagi pengembangan ilmu maupun kepentingan praktisi di lapangan.

3. Sistematika Proposal

Rancangan atau proposal penelitian untuk skripsi mahasiawa terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut :

I. PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan ini mengemukakan tentang latar belakang masalah dan urgensi mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan. Hal itu dapat dikemas dalam beberapa bagian seperti :

(1) Latar belakang :

Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi:
a. Uraian tentang kedudukan mata pelajaran dalam kurikulum (semester, mata pelajaran yang ditunjang dan mata pelajaran penunjang);
b. Gambaran umum isi mata pelajaran tsb termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, RPP, Silabus dari mata pelajaran yang bersangkutan);
c. Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.

(2) Identifikasi masalah

(3) Batasan dan rumusan masalah

(4) Tujuan dan manfaat penelitian.

II. LANDASAN TEORI

Bagian ini terdiri dari:

(1) Uraian teori

(2) Kerangka konseptual

(3) Hipotesis (untuk penelitian tertentu boleh tidak menggunakan hipotesis)

III. METODOLOGI PENELITIAN

Bagian ini menyajikan penjelasan antara lain meliputi :

(1) Variabel penelitian (defenisi operasional)

(2) Tempat dan waktu penelitian

(3) Sumber data atau populasi dan sampel

(4) Alat pengumpul data (sebaiknya dilengkapi dengan kisi-kisi atau indikator)

(5) Teknik analisis data yang digunakan.

IV. DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/society-and-news/environment/2043788-pengertian-proposal/

http://chandil.wordpress.com/2007/05/02/definisi-proposal/

http://chandil.wordpress.com/2007/05/02/langkah-langkah-sebelum-menulis-proposal/

http://diagonalrain.blogspot.com/2010/06/pengertian-proposal.html

http://ghadizluthu.blogspot.com/2010/06/pengertian-proposal.html

nama : katherine fernanada gunawan

kelas : 3EA10

NPM : 11207 246